The Man from U.N.C.L.E.- Bercerita sekitar awal tahun 1960-an, tentang agen CIA Napoleon Solo (Henry Cavill) dan Illya Kuryakin (Armie Hammer)
dari KGB yang bekerja sama untuk menyelesaikan sebuah misi berbahaya.
Misi tersebut adalah melawan sebuah organisasi kriminal misterius yang
sedang mengancam keseimbangan dunia dengan mengembangkan sebuah
teknologi nuklir.
Kedua
agen tersebut akan mengawal seorang putri untuk menemukan ayahnya yang
merupakan seorang ilmuwan Jerman yang hilang. Sang ilmuwan menjadi kunci
untuk menyusup ke dalam organisasi tersebut, dan mereka tak punya
banyak waktu untuk menemukan sang ilmuwan dan mencegah bencana di
seluruh dunia. iya itulah sedikit info tentang film
The Man from U.N.C.L.E., langsung saja jika kalian ingin mendownload film nya klik "Download" yang berada dibawah ini :
Movie Info
Quality: CAM Subtitle: – Genres: Action | Adventure | Comedy Directors: Guy Ritchie Stars: Henry Cavill, Armie Hammer, Alicia Vikander Country: USA
Lee Min Ho tengah sibuk dengan film terbarunya bertajuk Bounty Hunters.
Sukses dalam debut film Gangnam Blues (2015), Lee Min Ho kembali
dipercaya beraksi dalam film yang merupakan mega-proyek sineas Korea,
Tiongkok, dan Hongkong.
Bounty Hunters memiliki biaya produksi yang fantastis yaitu 35 miliar
Won atau sekitar Rp 413 miliar. Proses pengambilan gambar akan
dilakukan di beberapa negara di Asia, diantaranya, Tiongkok, Korea,
Malaysia hingga Thailand.
Sebagai film kolaborasi, Lee Min Ho juga akan beradu akting dengan
sederet artis ternama dari negeri tirai bambu, diantaranya Wallace
Chung. Saat ini, proses produksi mulai dilakukan.
Tak menarik rasanya jika film yang tampak hebat itu tanpa sentuhan
wanita. Artis cantik yang tak hanya jago berakting, tapi juga memberikan
warna indah selama cerita berlangsung diperlukan untuk membangun
suasana.
Tang Yang atau yang lebih dikenal sebagai Tiffany Tang, artis Tiongkok yang akan menjadi lawan main Lee Min Ho.
Salah satunya, artis cantik Tang Yang atau yang lebih dikenal sebagai
Tiffany Tang. Artis oriental itu akan menjadi lawan main Lee Min Ho,
berperan sebagai kekasih dari aktor tampan asal Korea Selatan itu,
diwartakan Korea Star Daily, Jumat (27/8/2015).
Wajah Tiffany Tang yang tampak seperti boneka akan membuat penggemar
jatuh hati. Saat ini, Tiffany Tang juga sibuk dengan drama Mandarin yang
diperankan bersama Rain, Diamond Lovers.
SPOILER ALERT: PERINGATAN! Esai film tentang Battle of
Surabaya ini membincangkan inti cerita dan momen kunci filmnya. Waspadai
bocoran cerita di tulisan ini.
Pada 22 Agustus lalu pengelola akun fanpage Facebook film Battle of Surabaya menuliskan status begini, "Fakta
Pertaruhan harga diri bangsa antar negara: INSIDE OUT (Amerika) VS
BATTLE OF SURABAYA (Indonesia), hanya bisa dimenangkan kalau penonton
Indonesia mendukungnya dengan menonton di bioskop. Menurut kakak....?"
Di bioskop, Battle of Surabaya memang harus berhadap-hadapan dengan film animasi buatan Pixar milik Disney, Inside Out.
Namun, menjadi hal yang menarik untuk kita diskusikan bersama bahwa
yang dipertaruhkan di bioskop saat ini adalah “harga diri bangsa” dan
dengan demikian, bila memilih menonton Inside Out kemudian dicap tak nasionalis.
Menyebut harga diri bangsa dipertaruhkan oleh pertarungan Battle of Surabaya versus Inside Out tentu saja berlebihan. “Lebay”, jika menggunakan istilah masa kini.
Tapi, sejak dulu nasionalisme memang selalu jadi bahan jualan yang
jitu. Hal ini tampaknya yang ingin dikedepankan sang pemilik film Battle of Surabaya.
Harapan mereka, jiwa nasionalisme dan patriotisme masyarakat bakal
terlecut dan memilih menonton film buatan anak bangsa sendiri ketimbang
bikinan Hollywood.
Adegan film Battle of Surabaya. (dok. MSV Pictures)
Lantas, apa jualan nasionalisme ini laku?
Biar angka yang bicara.
Dari data yang dimiliki pengamat perfilman Yan Widjaya, sampai Minggu
(23/8/2015) kemarin, Battle of Surabaya (rilis sejak 20 Agustus) baru
mengumpulkan 31 ribu penonton. Data laman filmindonesia.or.id per Senin
(24/8/2015), naik sedikit jadi 37.393 penonton. Battle of Surabaya jauh tertinggal oleh Magic Hour (386 ribu penonton) dan, apalagi Surga yang Tak Dirindukan (1,5 juta penonton).
Sedikit menyinggung film dan nasionalisme, kita memang dengan mudah
menyebut apa yang dimaksud film Hollywood, film Bollywood, film Hong
Kong atau semacamnya. Namun sejatinya, batas-batas teritorial dari
sebuah film tak signifikan betul. Dengan sistem ekonomi terbuka dan
kapitalistik yang berlaku di hampir seluruh permukaan bumi saat ini,
film bisa melampaui batas-batas teritorialnya.
Sebagai komoditas selayaknya barang dan jasa, yang berlaku kemudian pada film adalah hukum ekonomi, yakni hukum supply dan demand.
Saat permintaan pada film negara tertentu tinggi, maka produsen akan
membanjiri pasar dengan produk film negara tersebut. Dan kerap kali film
bikinan Hollywood yang lebih disukai pasar.
Dari sini negara yang kebanjiran film Hollywood biasanya melakukan
proteksi. Tiongkok membuat aturan membatasi jumlah film Hollywood yang
edar. Pemerintah kita tak lakukan itu. Maka, yang satu-satunya bisa
dilakukan ya dengan melecut rasa nasionalisme penonton film.
Karena sifatnya hanya himbauan, penonton tetap memiliki kemerdekaan atas pilihan tontonannya.
Battle of Surabaya, Antara Kualitas Animasi dan Nasionalisme
Jualan nasionalisme ala Battle of Surabaya juga terdeteksi
dari kabar yang menyebutkan filmnya sempat dilirik Disney. Kabar ini
dihembuskan si empunya film dengan tujuan, tentu saja, menunjukkan kalau
mereka sudah go international.
Berkiprah di dunia internasional diyakini bakal menyulut rasa bangga
kita sebagai bangsa. Logika yang juga dipakai dari kabar itu juga
adalah, “Disney saja melirik, masak Anda yang satu negara dengan pembuat
filmnya ogah nonton.”
Pertanyaannya kemudian, apa isi filmnya memang bertujuan membakar rasa nasionalisme yang menonton?
Hm, di sini masalahnya. Film ini punya judul dan tagline bahasa Inggris: Battle of Surabaya, there is no glory in war.
Saya tak tahu kenapa sineasnya tak memilih judul “Pertempuran Surabaya”
dan tagline “Tak ada pemenang dalam perang.” Mungkin lantaran rasa
internasional juga yang ingin dikejar film ini. Judul dan tagline bahasa
Inggris terasa lebih “bunyi” bagi masyarakat internasional.
Lalu tengok pula gaya animasi yang dipilih film karya Aryanto
Yuniawan ini. Kok, terasa sekali pengaruh anime alias kartun Jepang, ya?
Kenapa tak memilih gaya gambar asli Indonesia?
Untuk soal yang terakhir ini saya mencoba maklum. Lantaran sedikit
sekali film animasi panjang yang dihasilkan bangsa ini, hingga kini kita
masih belum mendefenisikan apa yang dimaksud “gaya animasi Indonesia”
sebagaimana Amerika atau Jepang dengan ciri khasnya masing-masing.
Adegan film Battle of Surabaya. (dok. MSV Pictures)
Pilihan berkiblat pada anime saya maklumi lantaran generasi sekarang
memang lebih akrab dengan anime atau manga alias komik Jepang. Sineasnya
juga mungkin merasa gaya anime bakal lebih diterima masyarakat
internasional.
Namun ada hal lain lagi yang membuat jualan nasionalisme Battle of Surabaya di permukaan (lewat menubrukkan dengan Inside Out milik Amerika dan menyebarkan kabar filmnya dilirik Disney) terasa paradoksal dengan isi filmnya.
Menonton filmnya, pesan utama yang tersirat dari filmnya justru bukan
rasa nasionalisme ataupun patriotisme yang ingin ditonjolkan, melainkan
universalisme. Tapi di lain pihak, pesan universal yang mengatakan “there is no glory in war” sebagaimana ditulis di tagline-nya terasa problematis. Ambigu.
Tengok saja cerita filmnya. Kita awalnya dikenalkan dengan Musa,
bocah yang bekerja sebagai penyemir sepatu dan juga kurir surat para
pejuang. Ia mendapati perwira Jepang yang sudah dianggapnya ayah tewas
dibunuh. Kemudian, ibunya juga tewas dalam kebakaran yang menghanguskan
rumahnya. Sesaat sebelum tewas, ibunda berpesan, “Tidak pernah ada
kemenangan dalam perang.”
Musa bersahabat dengan Yumna, penjual kue yang orangtuanya dulu
bekerja pada keluarga Belanda. Saat Jepang masuk, majikan Belanda-nya
dibunuh Jepang. Ibunya dijadikan jugun ianfu.
Adegan film Battle of Surabaya. (dok. MSV Pictures)
Di sini kita mendapat kesimpulan, Musa dan Yumna adalah bocah korban perang.
Lalu, kita juga berkenalan dengan tentara Inggris yang membenci
perang, karena perang membuatnya kehilangan anak-istri. Namun, caranya
membenci perang justru dengan mengobarkan perang. Ada pula Danu, pejuang
republik yang punya agenda tersembunyi.
Perang kemudian memakan tokoh-tokoh kita. Yumna dan Danu diceritakan tewas. Musa kehilangan orang-orang yang dicintainya.
Battle of Surabaya, Antara Kualitas Animasi dan Nasionalisme
Sekali lagi film ini punya pesan anti perang. Masalahnya, pada
kenyataannya, pertempuran Surabaya pada 10 November 1945 sudah telanjur
dikenang sebagai momen paling patriotis dalam sejarah perjuangan bangsa
kita.
Sejak dulu, pertempuran itu digambarkan sebagai momen penting saat
pemuda-pemuda yang gagah berani mengorbankan nyawa mereka demi
mempertahankan kemerdekaan yang baru diraih. Para pejuang di Surabaya
dahulu, digambarkan begitu heroik--bersenjatakan bambu runcing--melawan
penjajah yang persenjataannya lebih modern.
Di film ini pula kita melihat momen-momen kunci heroisme pertempuran
Surabaya seperti perobekaan bendera Belanda di Hotel Yamato maupun
pidato Bung Tomo yang membakar semangat juang.
Nah, jika filmnya punya pesan anti perang, kenapa pula
menggelontorkan heroisme dan rasa patriotisme peperangan? Tidakkah hal
itu jadi campur aduk.
Adegan film Battle of Surabaya. (dok. MSV Pictures)
Ada novelet karangan Idrus, seorang sastrawan angkatan ’45, berjudul Surabaya.
Di novelet itu, yang ditulis tahun 1947 atau tiga tahun setelah
pertempuran Surabaya, Idrus memposisikan dirinya dengan jelas: baginya
pertempuran tersebut bukan aksi heroik nan patriotis. Melainkan aksi
para koboi.
Ia menulis, “Orang tidak banyak percaya lagi kepada Tuhan. Tuhan baru
datang dan namanya macam-macam: bom, mitralyur, mortir.” Pejuang
kemerdekaan disebutnya koboi-koboi. Tentara sekutu disebutnya
bandit-bandit.
Idrus juga menulis:
“Di tengah jalan cowboy-cowboy ditahan oleh bandit-bandit dan
diharuskan menyerahkan senjatanya. Bandit-bandit berteriak, sambil
mengacungkan bayonetnya: ‘Jiwamu atau senjatamu!’
“Cowboy-cowboy tidak mengangkat tangannya dan tidak pula mau
memberikan senjatanya. Mereka berteriak: ambillah jiwa kami! — dan pada
waktu berteriak itu mereka mulai menembak. Bandit-bandit pun menembak
dan pertempuran seru terjadi.” Battle of Surabaya yang dihasilkan animator-animator
Yogyakarta dari MSV Pictures, anak perusahaan kampus STMIK Amikom
Yogyakarta. tak memiliki ketegasan sikap macam novelet Idrus. Semua
sepakat, pertempuran Surabaya paling diingat orang karena pertempuran di
hari itu selalu diperingati sebagai Hari Pahlawan.
Maka, yang jadi pertanyaan, kenapa mengawinkan pesan anti perang di momen paling heroik bangsa kita?
Saya pernah membaca, pertempuran Surabaya dipilih sebagai latar film semata lantaran pertempuran tersebut telah mendunia.
Dari sini kemudian pembuat filmnya tampak bingung. Mau tak mau,
heroisme, patriotisme, dan rasa nasionalisme di pertempuran 10 November
1945 muncul dan dikawinkan dengan pesan anti perang.
Adegan film Battle of Surabaya. (dok. MSV Pictures)
Sebetulnya, kelihatan filmnya hendak bersikap senada dengan anime masterpiece milik Studio Ghibli, Grave of Fireflies
(1988). Film tersebut menceritakan bocah-bocah korban perang. Pesan
anti perangnya jelas: bocah yang tak berdosa harus hidup menderita lahir
batin, tak putus dirundung malang dan kemudian kehilangan nyawa. Battle of Surabaya lagi-lagi tak punya ketegasan sikap macam Grave of Fireflies.
Dengan ketaktegasan sikap itu, momen-momen dramatis saat tokoh-tokoh
kita kehilangan nyawa malah tak terasa. Film ini gagal membuat
karakter-karakternya menarik simpati kita, penontonnya. Bandingkan saat
menonton Grave of Fireflies. Susah untuk tak menitikkan air mata saat momen klimaks filmnya.
Sekarang bicara kualitas animasinya. Sekali lagi, saya tak
mempermasalahkan pilihan gaya mirip anime. Namun, bila hendak berkiblat
ke gaya anime, ya jangan tanggung-tanggung. Desain karakternya sudah
mirip anime, namun saat karakter-karakter itu bergerak masih terasa kaku
dipandang. Kurang halus.
Yang terasa melegakan, film ini punya gambar latar yang bagus. Sedap
dipandang. Dubbing dan tata suaranya pun terdengar jernih di telinga.
Ini artinya, animator kita sebetulnya punya kemampuan membuat film
animasi dua dimensi yang keren. Andai diberi waktu dan biaya lebih
banyak lagi, hasilnya mungkin akan lebih rapi, tak kalah dari kehalusan
anime.
Kelemahan kita hanya satu, pada cerita. Penggodokan cerita tampaknya belum maksimal. Alhasil, Battle of Surabaya menyodorkan cerita yang tak konsisten. Ah, andai saja…
Raisa dan Isyana Sarasvati, dua penyanyi menjadi idola baru di
belantika musik Tanah Air. Dua perempuan bersuara emas ini belakangan
disebut-sebut memiliki kemiripan. Baik dari segi penampilan dan maupun
cara bernyanyi.
Lalu bagaimana jika Raisa dan Isyana Sarasvati berpose bersama dalam
satu bingkai? Hal ini terjadi di belakang panggung Hari Ulang Tahun
ke-25 SCTV di Istora Senayan. Raisa dan Isyana Sarasvati menjadi pengisi
acara di perhelatan itu.
Tak mau melewatkan momen kebersamaannya, Raisa dan Isyana Sarasvati
mengabadikannya. Mereka berpose bersama dengan berbagai ekspresi. Isyana
Sarasvati pun mengunggahnya di akun Instagram pribadinya, Rabu
(26/8/2015).
"Momen di belakang panggung yang menyenangkan bersama @raisa6690. Senang bisa bertemu denganmu, Yaya (panggilan akrab Raisa)!" tulis Isyana sebagai keterangan fotonya dalam Bahasa Inggris disertai tanda hati.
Jika diperhatikan Raisa dan Isyana Sarasvati pun tampak mirip. Bahkan
penggemar banyak yang menyebutkan keduanya terlihat seperti anak
kembar. Padahal di foto tatanan rambut serta riasan wajahnya berbeda.
Akun @shennytan2 mengatakan, "Miripppp seperti kaka adek." Sedangkan akun lainnya yakni @sandraraiska menuliskan komentar, "Kembar yo me wkwk."
Raisa dan Isyana Sarasvati sekilas memang mirip, tetapi keduanya
tetap berbeda. Namun Isyana Sarasvati kerap disebut-sebut sebagai tiruan
Raisa. Meski begitu pelantun "Tetap Dalam Jiwa" itu tak mau ambil
pusing.